Baru kali ini aku ngalamin sakit yang lumayan panjang. Untungnya sih bukan sakit 'blek' yang hanya bisa tiduran aja. Tapi kondisi badan yang gak fit karena sering flu dan badan panas dingin.
Setelah melahirkan memang kondisi badan turun drastis. Hal ini akibat dari meluncurnya HB ke angka 6-an. Aku pikir masalah ini cukup ditanggulangi dengan makan makanan yang banyak mengandung zat besi plus ditambah suplemen zat besi saja. Terbukti setelah sebulan HB-ku naik hingga ke angka 11 (normal). Tapi siapa sangka dengan keadaan pernah parah seperti itu ternyata masih menyimpan ketidakseimbangan metabolisme tubuh.
Ngurus anak,ngurus rumah, dll sepertinya jadi melupakan pentingnya tetap minum suplemen. Suplemen untuk ibu menyusui sudah punya dan memang diminum hanya saat ingat. Sebulan setalh melahirkan aku ingat 2 kali terserang flu. Badan panas dingin dan kadang disertai dengan sesak napas. Untungnya terapi jeruk nipis berhasil menyembuhkan.
Bulan kedua setelah melahirkan kembali kena flu yang katanya emang saat itu sedang ada 'Grippe Welle' atau gelombang sakit flu yang mewabah di Jerman selatan. Aku sempat kembali mengalami kondisi badan panas dingin yang aneh. Untungnya 2 hari sembuh tanpa harus memasuki fase bersin-bersin.
Bulan ketiga setelah melahirkan mulai memasuki musim semi yang indah. Tak mau ketinggalan kesempatan menikmati udara luar, maka hampir tiap hari keluar, sekedar jalan-jalan atau menemani Adna bermain. Bahkan aku pasang target harus bisa mengajari Adna naik sepeda. Alhamdulillah setelah melalui kerja keras mendorong-dorong sepeda yang dinaiki Adna sambil megal megol lama-lama Adna berhasil naik sepeda roda dua sendiri. Tapi rupanya lagi-lagi badan gak kuat. Flu kembali menyerang. Sesak nafas dan batuk gatal menerjang tak kenal ampun.
Waktu jalan-jalan ke Playmobil sepualngnya di rumah Wahyu Hidayat di Nürnberg, nafas mulai tersengal-sengal.Wah tersiksa sekali, walhasil 2 malam tak bisa tidur. Untung siangnya masih kuat untuk pulang ke Muenchen. Dan di Muenchen si sesak nafas dan batuk-batukna masih belum pergi. Dan hampir satu minggu tidak bisa tidur. Untungnya siang hari masih saja ada energi untuk mengurus si kecil (Thank's God). AKhirnya tak tahan ke dokter juga.
Wah dokter langgananku lagi off karena tempat prakteknya direnovasi. KArena sudah gak tahan lagi akhirnya pergi ke dokter terdekat. Karena dokter ini belum kenal tubuh kita maka yang ada kita seolah-olah jadi bahan eksperimennya. Katanya di tenggorokanku memang ada virus tapi belum ke paru-paru. Walhasil aku diberinya antibiotik. Tapi karena aku sedang menyusui maka hanya diberi antibotik dosis rendah yang biasa dipake anak-anak. Plus obat semprot hidung klo mampet. Sudah seminggu minum antibiotik yang banyaknya 4 botol @100 ml ternyata masih belum sembuh juga. AKu masih batuk dan sesek.
Aku kembali dikasih antibiotik berbentuk pil sambil dibekali pula alat semprot pelega napas. Ssedikit demi sedikit kondisi badan mulai membaik. Tapi batuk masih tetap ada sampai antibiotiknya habis. Akhirnya sang dokter memberikan aku obat batuk berbentuk tablet. Tak lupa juga aku dibekali pula mineral-mineral seperti kalsium, zat besi, dan juga tablet untuk mempermudah peresapan mineral-mineral itu ke dalam tubuh.
Ketika badan mulai dalam proses penyembuhan, aku main ke rumah teman. Dia kebetulan masak ayam (katanya ayam bio) dengan bumbu pedas yang sungguh nikmat. Kemudian juga dia menambahkan lalapan yang dipetik sendiri dari kebunnya. Beberapa jam setelah makan makanan itu tiba-tiba leher terasa sangat gatal. Aku pikir aku kegigit serangga. Aku langsung mandi, tapi makin malam seluruh badan gatal-gatal. Muncullah di kulit pulau-pulau lebar kemerahan yang Masya Allah gatal sekali. Badan pun sempat dibuatnya panas dingin.
Aku ambil obat antialergi sambil permukaan kulit diberi Minyak Tawon. Untungnya aku masih bisa tidur. Keesokan harinya pulau-pulau itu masih belum hilang namun warnanya mulai memudar. Tapi malamnya kembali aku dihajar gatal-gatal yang sangat bahkan mulai menjalar ke muka. Kebetulan aku gak punya cadangan CTM, hanya obat antialergi yang pernah diberi dokter saat aku diduga kena alergi polen. Dan ternyata itu berulang hingga hari ketiga. Untungnya aku ingat resep tradisional sewaktu kecil dulu pernah kena ulet bulu yaitu dengan melumuri badan dengan garam dicampur sedikit minyak kayu putih. Gatal-gatalnya sedikit berkurang.
Namun mungkin karena aku gak minum obat antialergi yang cespleng, gatal-gatal itu masih suka datang meski frekuensinya perlahan-lahan berkurang. Mungkin memang selama ada zat dari makanan itu di aliran darah maka proses alergi masih akan terus ada.
AKu baru kali ini merasakan sakit yang bertubi-tubi. Bahkan setelah serangan alergi mereda tiba-tiba tangan terasa pegal dan sakit sekali. Kembali semalam aku gak bisa tidur. Cari-cari parasetamol juga gak nemu akhirnya aku minum kalsium saja yang emang dua hari ini aku lupa minum. Alhamdulillah pegal-pegalnya juga mereda.
Yah pengalaman memang kalau sedang hamil atau menyusui, sebaiknya kondisi badan benar-benar harus dijaga. Karena kalau sakit obatnya susah sekali. Biasanya dikhawatirkan akan memebri efek pada ASI. Dan itu juga yang membuat si dokter sepertinya seolah-olah lamban sekali menangani sakitku yang ternyata bronchitis. Bronchitisku ini kan memang sudah kronis, jadi sejak kecil memang selalu kambuh hampir setiap tahun. Tapi di Indonesia sakit seperti ini ke Mantri kesehatan pun hanya dalam waktu 3 hari sudah sembuh. Entahlah kali ini mengapa begitu lama.