Balada orang takut

Aling-aling pengen gak ketipu sama orang China tapi berujung malu hehehe. Ceritanya nieh waktu mau pindahan dari Jerman ke China baju-baju dipisahin antara yang diangkut pake container yang dinaikin lewat kapal laut sama baju yang ditaruh dikoper. Baju yang ditaruh di koper itulah andalan utama kita sebelum berjumpa lagi sama si container di China. Nah aku ternyata hanya membawa 1 jaket winter begitupula Adna. Yah sudah niatnya emang nanti begitu di China mau beli aja disana (katanya murah-murah).

Sebetulnya jaket winterku itu udah kotor kuadrat deh. Apalagi emang warnanya yang putih makin memperjelas kotornya. Rencananya begitu nyampe China mau aku laundry-in aja. Tapi begitu nyampe China..berr...ber..udara dingin betul. Rasanya gak bisa lepas dengan si jaketku itu. Seminggu pertama kita padahal udah jalan-jalan ke pertokoan. Tapi setiap mau beli jaket langsung mengkeret karena pertama gak bisa bahasanya. Kalau gak bisa bahasanya aku takut banget ditipu dengan penawaran yang tinggi. Aku pernah beli barang-barang di China yang kayaknya udah di toko dan udah ditulis harganya. Aku beli aja sesuai dengan harga yang tertera. Suatu kali pernah jalan bareng temen ketika beli souvenir China, itu udah ada harga tertera ternyata sama temenku masih ditawar-tawar hingga sepertiganya.

Wah daripada ditipu jadi ngeluarin uang banyak mendingan ditahan-tahan dulu deh pake jaket kotornya. Kebetulan ada temen yang janji mau nemenin beli jaket. Tapi tunggu-ditunggu ternyata cuaca memburuk. Temenku itu jelas gak mood dong untuk shopping. Terus ternyata si Bibi di rumah juga udah gak tahan liat jaket kotorku itu maka dicucilah si jaket.

Waduh jaket winter tebel dalam keadaan basah. Mana gak ada sinar matahari.  Walhasil waktu jemput adna aku masih pake sweater, wah dingin betul. AKu nanya sama kenalan yang orang Taiwan dan bisa inggris kalau dia tahu tempat membeli jaket terdekat. Karena bagi yang tinggal di China tapi belum bisa bahasanya jangan coba-coba bicara kalau gak betul ucapannya, bisa-bisa si tukang taxinya salah denger dan nyasarlah kita. Jadi biasanya kita mesti nunjukin alamat lokasi dengan huruf China. Nah aku berharap si orang taiwan itu tahu dan dia tulisin pake huruf china.

Begitu tahu alasan kenapa aku pengen beli jaket, dia bilang gak perlu beli jaket dia pinjemin aja jaketnya. Begitu juga jaket buat si adna dia mau pinjemin jaket anaknya. Ibu itu baik sekali terus dia cerita ke ibu-ibu lain tentang masalahku.Terus ibu lain itu bilang " Wah sebaiknya emang tiap orang punya banyak jaket, tenang disini jaket murah kok...!". Wduh aku jadi malu, udah di situasi darurat aja masih takut sama harga.

                            

Dayly activity

       Ketika kami menginjakkan kaki di China kebetulan bertepatan dengan tahun baru China (Imlek, Lunar year). Jadi banyak instansi-instansi yang tutup. Kayak sekolah Adna pun libur selama 2 minggu. Kantor-kantor juga seminggu pertama off dan minggu kedua baru memulai aktifitas. Tapi bagi kami cukup menguntungkan karena waktu ini adalah jeda untuk beradaptasi dan sedikit 'break' dari kerepotan akibat pindahan.
       Tahun baru China ternyata lumayan meriah. Bayangkan saja seminggu lebih bunyi petasan dan kembang api dimana-mana. Wah semangat bener ya mereka ngerayain tahun barunya. Karena didorong kebutuhan pokok untuk makan, maka aktivitas pertama kita ke luar rumah adalah belanja. Wah sudah 4 tempat perbelanjaan kita datangi. Tujuannya yah selain perbandingan juga untuk mempelajari gaya-gaya di setiap perbelanjaan itu.
      Pertama yang kita datangi adalah Metro. Hmm..dari namanya kayaknya udah rada familiar yah dengan di jerman.Metro di sini ternyata bagaikan Makro di Indonesia. JAdi mereka menjual barang-barang dengan volume besar-besar. Kayak bawang putih aja masak per-2 kg-an. Wah dikata kita mau buat ngusir vampir apa..segitu banyak...!. Minyak goreng juga paling kecil 5 ltr. Tapi banyak juga lho barang-barang yang kita bisa temui di jerman. Kayak sabun cuci Persil, Klare bruehe ,Jaeger Sosse (ini bahkan masih dalam tulisan latin berbahasa jerman), sabun cuci piring Pril, terus produk-produk reinigung.  Yah kita beli kebutuhan-kebutuhan pokok dulu. Kayak beras (berasnya disini bulet-bulet besar, kayak beras untuk sushi), sabun-sabun, susu,cemilan,dll.
          Tapi baru beberapa hari, susu sudah mulai habis,cemilan, roti juga habis. Wah karena Metro tergolong jauh kita cari toko terdekat yang lain, Auchan. Nah ini Walmart-nya China. SEmua kebutuhan hidup dari A-Z ada dan tempatnya di area yang luas banget, jadi semua barang di 1 lantai. Wah model perbelanjaan kayak begini sering bikin aku pusing. Dan orang yang datang buannyaaakkkk banget. Tumplek plek, tiap hari kayak begitu.
         Lagi-lagi kita belanja juga gak sekalian banyak. Padahal pusat-pusat perbelanjaan itu letaknya gak dekat dan biasanya karena bawa anak-anak kita naik taksi. Entahlanh mindsetku kayaknya masih belum beradaptasi. Seolah-olah aku masih belanja di Penny Markt deket rumah. Yang sewaktu-waktu klo susu atau roti abis tinggal jalan kaki.
         Pusat perbelanjaan ketiga yang disebut neighbourhood center, ini mah kayak PEP di Neuperlach Zentrum tapi jauh lebih kecil. Supermarketnya juga seperti Tengelmann. Tapi ada toko-toko lain dari mulai toko permen, bakery, Studio foto,dll.
         Yah secara umum kalau yang namanya belanja mah dimana-mana yah sama. Dari segi harga memang lebih murah dari di jerman, tapi itu pun gak semua. Harga susu fresh milk hampir sama, demikian pula harga pampers. Dan kalaupun makanan lebih murah juga hanya lebih murah 60-70% saja dengan di jerman. Jadi seperti belanja di supermarket-supermarket di Jakarta. Tapi untungnya disini aku bisa nemuin apel favoritku si red delicious Washinggton Apple. Dan roti-roti dibakery-nya hmmm wuenakkk...yang empuk-empuk gitu.
           Selain belanja belanji kita juga nyoba makan di luar. Alhamdulillah untungnya kita nemuin restaurant Muslim. Terus pernah juga nyoba di KFC, ternyata ada produk-produk fish-nya. Nyoba juga nongkrong di starbucks coffe dan restaurant Mexico. Enaknya kalau ke restaurant Amerika atau eropa sistem penghangatnya bagus. Begitu masuk langsung hawa angetnya mantap.  Sayangnya memang mereka pasang tarif-nya sama juga euy dengan di jerman. Kayak segelas cklat hangat di starbuck harganya 24 Yuan (2,4 euro) atau kopinya 32 Yuan.

Menginjakkan kaki di China

         Tanggal 4 Februari tengah malam, kami sampai di kompleks apartemen Landmark Skylight (Hu zoe an). Untung saja ada beberapa satpam yang  masih berjaga-jaga. Merekalah yang membantu menarik koper dari taxi sampai depan pintu apartemen. Meski dari tempat turunnya taxi apartemen kami tidak jauh, tapi jalan setapaknya tertutup salju. Hanya sebagian kecil yang dibersihkan. Cukup repot jika harus bolak balik narik koper sendirian. Gak nyangka memang ternyata salju di China cukup tebal. Udara pun dingin sekali entah minus berapa.
           Sampai dalam apartemen pun teryata dinginnnya gak banyak berubah. Di ruang tamu ada heater besar. Tapi jangan dibayangkan heizung di jerman. Ini hanya sebuah heater kecil yang menghangatkan ruangan dengan menghembuskan angin hangat. Begitu juga di tiap ruangan ada AC yang bisa distel temperaturnya. Tapi sayangnya dengan sistem pemanas seperti itu hanya 50 cm dari alat itu saja yang hangat selebihnya duiinnnginnnn. Waktu itu suhu dalam rumah 7 C. Bener-bener kayak kulkas. Mana perut kroncongan karena seharian belum makan. Ke dapur nyoba nyalain kompor sulit. Air di kran juga seperti air es dan tentu saja tidak layak minum.   Satu-satunya yang berfungsi adalah microwave.
             Walhasil kami masak nasi dengan microwave itu. Untungnya bawa Abon, Kering Tempe Terik, cukuplah untuk jadi lauk mengganjal perut. Apartemen ini lumayan bergaya modern. Lantainya kemilau yang bagiku memantulkan  susahnya merawat itu semua. Ukurannya 178 meter persegi termasuk ballkon. Satu ruang tamu besar dengan sofa, TV set dan meja makan lengkap. Kamar tidur ada 2 buah dengan kamar tidur utamanya dilengkapi kamar mandi. 1 Kamar kerja, dapur dan kamar mandi lagi. Di dapurnya juga dilengkapi dengan kompor gas, sterilisator alat makan, mesin cuci piring, dan mesin cuci baju. Perabot rumah tangga seperti sofa, dining table, tempat tidur sepertinya bagus dan dari material berkualitas lumayan.
              Lingkungan sekitar juga berbeda sekali dengan di jerman. Sepanjang jalan kami lihat gedung-gedung apartemen yang tinggi-tinggi dan bergaya modern. Cukup pusing juga melihat gedung tinggi yang begitu banyak. Yah inilah china, penduduknya padat sekali. Gedung-gedung apartemennya membentuk coloni-coloni yang biasanya masing-masing memilki kekhasan gaya arsitektur. Tiap coloni apartemen itu ada namanya seperti Landmark, Horizont Resort, Four Seasons,dll.
               Sepintas kota kami mirip dengan Singapur. Dan ternyata memang karena region kami adalah Singapur Industrial Park (SIP), mungkin kalau di jakarta kayak Serpong gitu. Jadi region ini dulunya developer sahamnya dari Singapur dan ditata menyerupai Sinngapur. Jalan rayanya besar-besar dan bersih. Berasa di Singapur asal jangan coba-coba ke toilet umumnya. Ke toilet umum barulah sadar klo kita lagi di China.

            
            

After 7 years

    Biasanya kami yang mengantarkan teman-teman dan sahabat yang hendak kembali ke tanah air atau berpindah ke negara lain. Namun , hari itu tanggal 2 februari 2008 kamilah yang diantar sahabat-sahabat tercinta. Hidup terkadang adalah sebuah pilihan dari takdir-takdir. Entahlah akhirnya kami memilih China sebagai negara persinggahan mozaik hidup berikutnya. Tak ada firasat ataupun khayalan sebelumnya untuk tinggal di negara orang-orang Tiongkok ini.
     Namun sepenggal hati kami tetap tertinggal di Jerman. Apalagi darah daging kami semuanya lahir disana. Seorang sahabat sufi di Bandung berkata bahwa  tanah kelahiran bukanlah hanya sekedar  tertulis di akta lahir melainkan lebih dari itu menentukan misi hidupnya di masa depan. Bagi kami yang orang awam terkadang menyisakan tanya yang cukup besar bagaimana kami sebagai orang tua bertanggungjawab menuntun anak-anak kami menuju masa depannya pun ketika ternyata ke depan Jerman bukanlah lagi tanah persinggahan kami. Sekali lagi hanya Allah yang tahu.
       Yah, setelah hampir 7 tahun di jerman meski mungkin belum terlalu lama tapi cukup meninggalkan goresan kenangan yang indah dan tak terlupakan. Di jermanlah untuk pertamakalinya kami membangun biduk rumah tangga. Dan ketika anak-anak satu persatu lahir yah kami berdua saja yang melakukan sendiri. Rasanya masih menjadi kenangan indah ketika baru saja pulang melahirkan si Ayah memasakkan telor ceplok dan indomie rebus 'istimewa'.
       Di jermanlah tempat kami belajar banyak untuk beradaptasi.Beradaptasi dengan lingkungan sekitar, belajar beradaptasi menjadi suami istri dan kemudian orang tua. Sungguh penggalan-penggalan kejadian penting dalam fase hidup kami terukir di sana.
      Rasanya belum lama, ketika tanggal 31 Juli 2001 kami menginjakkan kaki di bandara Frankfurt dan berkereta ICE menuju Muenchen. Tiba di hari Minggu semuanya terasa lengang. Untuk pertamakali kami tinggal di apartemen Arabela Park. Apartemen yang indah namun cukup berisik karena dekat dengan jalan raya. 3 Bulan disana pindah ke Bergstrasse. Dan terakhir di Schlierseestrasse.

      Untuk sahabat-sahabatku semua yang menjelma bak keluarga sendiri. Banyak kenangan dan cerita. Sedih dan tentu saja kehilangan. Specially for The Jatmikos. Merekalah yang menjemput Mas Nano ketika pertamakali  berada di Muenchen. Dan mereka pulalah yang mengantar kita ketika pergi. Moga Allah membalas amal kebaikan kalian.  The Nugrahas......tetangga terdekat. Maafkan kami jika sudah membanjiri rumah kalian dengan barang-barang . Dan terimakasih banyak juga atas semua pertolongan. Jadi ingat ketika aku dan Ina saling bergantian menjaga baby-baby kita saat masing-masing ada keperluan. Dan para seniorku (beliau-beliau ini sudah ada sejak aku di Muenchen dan bahkan mereka masih ada ketika aku pergi); Bu Elka,Bu Bambang,Mbak Yulis,mbak Eva Helps miss u so much. Sahabat seumur ; Dwi Saad....jadi ingat pas Saad masih bujangan dan curhat betapa dia sangat mengagumi calon istrinya. Mbak Tresna meski baru dekat belakangan tapi juga banyak berjasa apalagi bersedia pintu rumahnya malam-malam digedor untuk dititpin Adna saat aku melahirkan Adam. Oiya..mbak Endah..kita juga punya kenangan cerita sendiri..yang selalu membuat kita jad tertawa. But take care...buddy...!.

    Untuk semua teman-teman di muenchen yang lain yang tak dapat diceritakan satu persatu...wah kalian makin memperkaya pengalaman terindahku saat-saat di jerman.

Sakit lagi..sakit lagi

Baru kali ini aku ngalamin sakit yang lumayan panjang. Untungnya sih bukan sakit 'blek' yang hanya bisa tiduran aja. Tapi kondisi badan yang gak fit karena sering flu dan badan panas dingin.

Setelah melahirkan memang kondisi badan turun drastis. Hal ini akibat dari meluncurnya HB ke angka 6-an. Aku pikir masalah ini cukup ditanggulangi dengan makan makanan yang banyak mengandung zat besi plus ditambah suplemen zat besi saja. Terbukti setelah sebulan HB-ku naik hingga ke angka 11 (normal). Tapi siapa sangka dengan keadaan pernah parah seperti itu ternyata masih menyimpan ketidakseimbangan metabolisme tubuh.

Ngurus anak,ngurus rumah, dll sepertinya jadi melupakan pentingnya tetap minum suplemen. Suplemen untuk ibu menyusui sudah punya dan memang diminum hanya saat ingat. Sebulan setalh melahirkan aku ingat 2 kali terserang flu. Badan panas dingin dan kadang disertai dengan sesak napas. Untungnya terapi jeruk nipis berhasil menyembuhkan.

Bulan kedua setelah melahirkan kembali kena flu yang katanya emang saat itu sedang ada 'Grippe Welle' atau gelombang sakit flu yang mewabah di Jerman selatan. Aku sempat kembali mengalami kondisi badan panas dingin yang aneh. Untungnya 2 hari sembuh tanpa harus memasuki fase bersin-bersin.

Bulan ketiga setelah melahirkan mulai memasuki musim semi yang indah. Tak mau ketinggalan kesempatan menikmati udara luar, maka hampir tiap hari keluar, sekedar jalan-jalan atau menemani Adna bermain. Bahkan aku pasang target harus bisa mengajari Adna naik sepeda. Alhamdulillah setelah melalui kerja keras mendorong-dorong sepeda yang dinaiki Adna sambil megal megol lama-lama Adna berhasil naik sepeda roda dua sendiri. Tapi rupanya lagi-lagi badan gak kuat. Flu kembali menyerang. Sesak nafas dan batuk gatal menerjang tak kenal ampun.

Waktu jalan-jalan ke Playmobil sepualngnya di rumah Wahyu Hidayat di Nürnberg, nafas mulai tersengal-sengal.Wah tersiksa sekali, walhasil 2 malam tak bisa tidur. Untung siangnya masih kuat untuk pulang ke Muenchen. Dan di Muenchen si sesak nafas dan batuk-batukna masih belum pergi. Dan hampir satu minggu tidak bisa tidur. Untungnya siang hari masih saja ada energi untuk mengurus si kecil (Thank's God). AKhirnya tak tahan ke dokter juga.

Wah dokter langgananku lagi off karena tempat prakteknya direnovasi. KArena sudah gak tahan lagi akhirnya pergi ke dokter terdekat. Karena dokter ini belum kenal tubuh kita maka yang ada kita seolah-olah jadi bahan eksperimennya. Katanya di tenggorokanku memang ada virus tapi belum ke paru-paru. Walhasil aku diberinya antibiotik. Tapi karena aku sedang menyusui maka hanya diberi antibotik dosis rendah yang biasa dipake anak-anak. Plus obat semprot hidung klo mampet. Sudah seminggu minum antibiotik yang banyaknya 4 botol @100 ml ternyata masih belum sembuh juga. AKu masih batuk dan sesek.

Aku kembali dikasih antibiotik berbentuk pil sambil dibekali pula alat semprot pelega napas. Ssedikit demi sedikit kondisi badan mulai membaik. Tapi batuk masih tetap ada sampai antibiotiknya habis. Akhirnya sang dokter memberikan aku obat batuk berbentuk tablet. Tak lupa juga aku dibekali pula mineral-mineral seperti kalsium, zat besi, dan juga tablet untuk mempermudah peresapan mineral-mineral itu ke dalam tubuh.

Ketika badan mulai dalam proses penyembuhan, aku main ke rumah teman. Dia kebetulan masak ayam (katanya ayam bio) dengan bumbu pedas yang sungguh nikmat. Kemudian juga dia menambahkan lalapan yang dipetik sendiri dari kebunnya. Beberapa jam setelah makan makanan itu tiba-tiba leher terasa sangat gatal. Aku pikir aku kegigit serangga. Aku langsung mandi, tapi makin malam seluruh badan gatal-gatal. Muncullah di kulit pulau-pulau lebar kemerahan yang Masya Allah gatal sekali. Badan pun sempat dibuatnya panas dingin.

Aku ambil obat antialergi sambil permukaan kulit diberi Minyak Tawon. Untungnya aku masih bisa tidur. Keesokan harinya pulau-pulau itu masih belum hilang namun warnanya mulai memudar. Tapi malamnya kembali aku dihajar gatal-gatal yang sangat bahkan mulai menjalar ke muka. Kebetulan aku gak punya cadangan CTM, hanya obat antialergi yang pernah diberi dokter saat aku diduga kena alergi polen. Dan ternyata itu berulang hingga hari ketiga. Untungnya aku ingat resep tradisional sewaktu kecil dulu pernah kena ulet bulu yaitu dengan melumuri badan dengan garam dicampur sedikit minyak kayu putih. Gatal-gatalnya sedikit berkurang.

Namun mungkin karena aku gak minum obat antialergi yang cespleng, gatal-gatal itu masih suka datang meski frekuensinya perlahan-lahan berkurang. Mungkin memang selama ada zat dari makanan itu di aliran darah maka proses alergi masih akan terus ada.

AKu baru kali ini merasakan sakit yang bertubi-tubi. Bahkan setelah serangan alergi mereda tiba-tiba tangan terasa pegal dan sakit sekali. Kembali semalam aku gak bisa tidur. Cari-cari parasetamol juga gak nemu akhirnya aku minum kalsium saja yang emang dua hari ini aku lupa minum. Alhamdulillah pegal-pegalnya juga mereda.

Yah pengalaman memang kalau sedang hamil atau menyusui, sebaiknya kondisi badan benar-benar harus dijaga. Karena kalau sakit obatnya susah sekali. Biasanya dikhawatirkan akan memebri efek pada ASI. Dan itu juga yang membuat si dokter sepertinya seolah-olah lamban sekali menangani sakitku yang ternyata bronchitis. Bronchitisku ini kan memang sudah kronis, jadi sejak kecil memang selalu kambuh hampir setiap tahun. Tapi di Indonesia sakit seperti ini ke Mantri kesehatan pun hanya dalam waktu 3 hari sudah sembuh. Entahlah kali ini mengapa begitu lama.

Warna Warni

    Udah lama gak ngeblog kok kangen juga ya. Yah setelah peristiwa penting kemarin yaitu persalinan anak kedua, Adam, memang hari-hari seolah berjalan begitu cepat. Tiba-tiba matahari sudah tenggelam dan terbit lagi. Dan Adam-ku sudah masuk usia 1 bulan.

    Melahirkan kembali tanpa didampingi sanak saudara menjadi pengalaman kedua bagi kami. Jika dulu pada kelahiran anak pertama,meski tidak ada sanak saudara di dekat kami tapi dulu ada seorang kawan yang kebetulan banyak sekali membantu. Di saat-saat kami sibuk dengan hal besar seperti bolak-balik ke RS, aku terkapar setelah melahirkan untuk beberapa minggu karena jahitan yang waktu itu dianggap 'lumayan aneh' karena bagian simpulnya seperti mau kebuka lagi dan juga masalah payudara yang membuat panas dingin. Belum lagi urusan pengurusan baby yang waktu itu betul-betul pengalaman pertama. Dan si ayah juga sudah harus kembali disibukkan dengan rusan kantor. Maka kehadiran seseorang yang mengurus hal-hal kecil seperti belanja, memasak, menaruh dan mengambil cucian di mesin cuci, atau sekedar menyingkirkan gelas dan piring ke tempat cucian piring  sungguh terasa sangat berharga. Itu pun masih belum mengcover beberes rumah. Untuk hal ini untung saat itu tidak terlalu merisaukan rumah yang berantakan.

        Nah pada kelahiran anak kedua, yang berarti ada 2 anak yang mesti diurus kami sendiri maka kami berusaha untuk meminimalisir kerepotan itu. Misal sebelum melahirkan sudah menyimpan aneka masakan yang dibekukan. Terutama makanan  yang bagus untuk nambah darah seperti masak ati  ayam-sapi atau daging  dan kebetulan memang sewaktu pulang dar RS HB-ku cuma 6,7 dan pasokan suplemen zat besi tablet belum ada karena saat itu hari libur dan semua apotek tutup dan baru buka lagi hari ke-3. Dan untungnya anak pertama sudah pergi ke TK, sehingga waktu pagi hingga siang aku bisa konsentrasi pada pengurusan baby ,urusan masak memasak, atau urusan printal printil kecil-kecil tapi banyak. Selain itu masih punya waktu untuk nginternet buka-buka email, baca berita,atau chat. Lumayan untuk hiburan dan tentu saja ampuh untuk mencegah babyblues.

     Maka kami menjadi sangat maklum kehadiran bayi mungil jika tinggal di Indonesia berarti juga kehadiran pembantu baru atau sanak famili yang tinggal sebulan atau dua bulan. Apalagi mungkin di Indonesia banyak hal kecil yang mesti dilakukan. Misalnya rumah minimal mesti disapu sehari sekali dan juga dipel karena debu yang betul-betul banyak dan tak terelakkan. Tumpahan cairan manis yang sedikit saja bisa mengundang semut sekampung, makanan yang cepat menjadi basi sehingga mungkin upacara masak-memasak harus lebih sering. Belum lagi harus memandikan bayi dua kali sehari. Jika di rumah tidak ada keran air panas berarti harus memasak air dulu. Belum lagi jika si bayi tidak pake pampers dan musim hujan pula.

       Yah begitu kali yah warna warni punya baby. Baik di Indonesia maupun di LN kayaknya memang harus repot. Seperti juga kasus melahirkan, emang ada melahirkan yang gak sakit? kayaknya memang harus sakit meski ada yang cepet ada yang lama. Tapi memang lebih baik repot daripada bengong...iya gak sih..?

Dan masih menunggu.....

        Ya, meski sudah memasuki tanggal yang diperkirakan-26 Desember (berarti 40 minggu usia kehamilan)- tapi rupanya si baby masih betah berlama-lama di rahim Mamanya. Kelahiran adalah takdir sehingga sulit sekali untuk diprediksi. Mungkin ada berbagai cara yang sepertinya adalah suatu rekayasa kelahiran. Seperti mungkin permintaan cesar yang diatur sedemikian rupa sesuai tanggal yang diinginkan. Atau proses induksi untuk kelahiran normal yang direncanakan. Namun mungkin itu adalah bagian dari takdir juga. Yah takdir bahwa sang anak dilahirkan pada jam dan detik itu dengan cara 'non alamiah'.

         Yah bagaimana pun kelahiran alamiah semoga tetap menjadi pilihan terbaik terutama bagiku meski untuk itu harus menunggu dan menunggu. HAri jumat lalu saat periksa ke dokter rasanya hati ini sedemikian girangnya manakala sang dokter bilang bahwa kontraksi sudah ada dan mulut rahim telah membuka 1 jari. Namun prosedur tetap berlaku bahwa ke RS hanya jika kontraksi sudah tak tertahankan lagi dan sudah sangat beraturan 5 menit sekali atau air ketuban yang sudah keluar. Namun sampai 4 hari berlalu yaitu hari ini, kembali kami pergi ke RS untuk mengontrol kondisi kehamilan. Dan rupanya masih belum ada tanda-tanda si baby mau keluar hari ini. Jantungnya masih normal bahkan si baby masih terhitung sangat aktif bergerak dan kontraksi apalagi pembukaan rahim masih belum berlanjut menjadi lebar.

     Dan kami pun masih pasrah untuk menunggunya....

Hari-hari akhir ibu hamil

    Alhamdulillah sekarang kehamilan sudah memasuki minggu ke 38. Jadi Insya Allah baby-nya juga udah makin mateng. Dag dig dug juga sih menghadapi due date. Tapi kadang agak gak enak juga yah waktu seorang Ibu temennya Adna di TK  nanya "Lho kok masih hamil aja?"....doi mungkin udah bosen kali ya ngeliat daku kok perutnya gak kempes-kempes. Padahal menurut dia kan udah lama gak ketemu, pas ketemu kok perutnya masih besar mulu.

    Memasuki tahap 'Menghitung Hari' ini memang diwarnai dengan perut yang sering sekali tiba-tiba mengeras dan rasanya nyeri sekali. Meski Ibuku menyarankan untuk sering-sering jalan supaya nantinya bisa melahirkan dengan lancar, tapi yah kayaknya belum masksimal sih. Alasannya? apalagi kalau bukan karena cuaca nan dingin. Waduh kayaknya kalau jalan lama-lama di taman bisa masuk angin dan bengek lagi nih. Dan akhirnya diputuskan untuk jalan-jalan di Mal. Tapi yah kalau keseringan bukan baby-nya yang turun eh malah isi dompet nih...hehehhe.

    Sebetulnya kaki oke-oke aja sih jalan-jalan kemana-mana, tapi berhubung kandung kemih udah kehimpit baby dengan kerasnya jadi kalau jalan-jalan jauh sedikit bawaannya mau pipis mulu. Nah kalau gak nemu toilet wah sakit banget. Makanya kadang daripada ditahan katanya bisa menimbulkan infeski, terpaksa pipis di Toilet-toilet umum di stasiun Kereta Bawah tanah yang tentu saja seringnya jorok banget.

      Tapi ada untungnya sedang hamil besar, orang-orang di sekitar jadi lebih baik. Pernah waktu lagi ke toko baju H&M tiba-tiba aku kebelet pipis terus nanya toilet ke  mbak-mbak cleaning service. Tadinya dia bilang kalau di tokonya itu gak ada tolet, kalau mau pipis pergi aja ke toko lain. Eh tapi demi ngeliat perut gede gini, akhirnya dia gak tega kali ya terus aku diantar ke toilet karyawan toko. Wah lega juga.

      Terus waktu ke toko lain, pas mau bayar karena tasnya terlalu kecil jadi pas mau ambil dompet HP juga ikut keluar dan jatuh berhamburan. Tutupnya kebuka dan cardnya gelinding. Eh si KAsir langsung memungutinya dan langsung tanpa ba bi bu memasang semua pernak-pernik HP yang berhamburan tadi. Aku sempet gak enak juga dengan yang antri di belakang. Meski aku bilang klo aku bisa ngerjain sendiri, tapi sang KAsir menolak dan memperbaiki HP-ku hingga betul.

      Terus juga waktu belanja ke supermarket sayuran. Seharusnya sayur itu ditimbang dulu sebelum sampai kasir. Tapi berhubung gak tahu, pas sampe KAsir si Ibu Kasir tanpa ngomel-ngomel langsung pergi sendiri ke tempat timbangan dengan membawa buah/sayuran tadi. Ketika aku minta maaf, beliau bilang gak apa-apa. Padahal klo kondisi normal pasti kita disuruh pergi lagi ke tempat timbangan untuk menimbang dan menempeli dengan harga yang sesuai.

       Nah ya.... mohon doanya bagi temen-temen semua agar saya bisa melahirkan dengan lancar dan mudah....dan Semoga saya dan bayi saya sehat-sehat. Amin ya Robbal 'alamiinn.

Malam kebudayaan Indonesia

          Malam Kebudayaan Indonesia (Indonesische Kultur Abend-IKA) kembali diselenggarakan di Muenchen hari Sabtu lalu (18.11). Acara yang mengusung berbagai pertunjukkan tari, lagu, maupun teater dari daerah-daerah di Nusantara ini memang hampir selalu tiap tahun diselenggarakan. Di ajang inilah ada perasaan rindu tanah air yang untung jadi terobati. Apalagi semenjak Adna turut berpartisipasi dalam setiap acara IKA.

           Tahun lalu Adna meramaikan acara peragaan busana, dan tahun ini di ajang dolanan anak. Dolanan anak adalah semacam tari-tarian sederhana yang menggambarkan gimana anak-anak Indonesia di pedesaan bermain. Ada jaranan, ada main congklak, ada cublek-cublek suweng atau ceplak gunung. Musik yang mengiringi juga musik yang riang khas anak-anak. Rasanya terharu juga dengan momen ini. Adna yang saat itu berperan sebagai anak yang sedang main congklak duduk dengan manisnya, berkebaya putih dan bersanggul kecil.

             Mungkin Adna masih beruntung karena meski sedikit, tapi mengenal permainan-permainan klasik Indonesia. Karena belum tentu anak-anak di Indonesia sendiri masih mengenal permainan itu. Keponakan saya menurut ibunya malah asyik bermain Playstation atau mungkin asyik pergi ke timezone di Mall-mall. Setelah tampil pun Adna dan teman-temannya-Naqishya dan Dara-langsung mengambil posisi duduk di kursi terdepan dan asyik menikmati rangkaian acara-acara selanjutnya. Moga-moga apa yang mereka lihat dapat lebih membangkitkan rasa ke-Indonesiaannya. Sebentar lagi Adna akan tampil juga di pertunjukkan Balet yang tentu saja khas budaya Barat. Paling tidak dia punya referensi atau pembanding bahwa sejatinya dia adalah anak Indonesia yang juga punya kebudayaan sendiri.

               Meski hidup di lingkungan teman-teman yang masih punya semangat untuk membangkitkan kebudayaan Indonesia, namun sepertinya ada perasaan khawatir bahwa membesarkan anak di negeri nan jauh ini belumlah cukup untuk menanamkan 'sense of belonging' tentang Indonesia. Mengikuti rangkaian kegiatan budaya Indonesia di sini bagi anak-anak mungkin cukup jika kita hanya menargetkan anak-anak kita 'mengenal Indonesia'. Tapi untuk lebih jauh yaitu 'paham' atau membangkitkan 'sense of belonging'-nya rasanya masih jauh.

              Bagaimana kelak dia peduli dengan persoalan-persoalan Indonesia dan proaktif melakukan langkah-langkah nyata baik langsung maupun tidak langsung. Kembali saya jadi teringat dengan kisahnya Prof.Dr.Samaun Samadikun yang lulusan Universitas Stanford tapi memilih pulang dan mengabdi kepada Indonesia. Orang-orang semacam beliau adalah putra-putra bangsa yang secara emosi terikat kuat dengan Indonesia bukan karena orangtuanya orang Indonesia tapi dia pernah mencicipi hidup dan bergaul dengan lingkungan Indonesia secara menyeluruh.

             Kembali pertanyaan di benak ini menggelitik, bukankah cukup dengan membawa anak-anak kita liburan setahun sekali ke Indonesia selama beberapa minggu maka 'sense of belonging' itu akan terbentuk. Lagi-lagi diri ini masih ragu. Berlibur hanyalah potret kecil tentang Indonesia, bahkan mungkin hanya potret manisnya saja. Dia mungkin melihat kemiskinan di Indonesia, tapi orang-orang miskin atau anak-anak jalanan itu ibarat sekedar 'life show' sekilas. Karena anak-anak jalanan itu bukanlah salah satu dari teman baik mereka. Maka ketika balik kembali ke negeri ini life show itu hanya berakhir dalam benak dan kemudian kembali hilang untuk diganti dengan memori lain yang lebih indah.

            Na ja, tapi sebagai orangtua sudah sanggupkah kita kembali ke belantara Indonesia. Dimana hukum rimba berlaku sedangkan di lain sisi kita sudah mulai terlelap dengan kenyamanan di negeri ini?. Pasti harus ada yang dikompromikan bukan dikorbankan. Kalau tidak jangan-jangan Indonesia jadi seperti India dimana bangsanya maju tapi bukan maju di negerinya tapi justru di negeri orang. Sedangkan India sendiri masih terbelenggu dengan keterbelakangan.


            

Hmm...is it baby stuff shopping time?

    Gak kerasa juga hari demi hari berlalu dan sekarang si baby udah masuk ke trisemester ke-tiga (udah minggu ke 33, euy). Ada yang bilang bahwa persiapan anak ke-dua jauh lebih nyantai daripada waktu persiapan anak pertama. Tapi bagiku kayaknya sama aja deh.....Mungkin karena aku seneng jalan-jalan dan liat-liat barang, makanya sejak masuk minggu ke 28 udah sibuk deh hunting sana sini. Lagian karena udah berselang 4,5 tahun jadi persiapan hampir seperti dari awal lagi.

    Dari lihat-lihat di online shopping, ke toko-toko, sampai ke flohmarkt-flohmarkt yang kebetulan bermunculan saat musim gugur tiba. Baju-baju si adna memang sudah aku lungsurkan ke orang lain yang saat itu memang membutuhkan. Dan alhamdulillah saat aku kembali butuh baju-baju baby, ada saja yang mau melungsurkan baju-baju bayi mereka dulu. Tapi berhubung bayiku akan lahir di musim winter kayaknya mesti harus dipersiapkan baju-baju yang tebal dan kebetulan belum banyak aku punya. Jadi tetap aku juga harus mempersiapkan yang kurang. Meski tentu saja aku banyak bersyukur karena paling tidak persiapan gak dari nol.

     Lucu juga kembali memilih-milih baju-baju mungil. Anehnya sekarang mungkin agak lain karena baju-bajunya mesti yang bernuansa boy sedangkan biasanya aku selalu memilih baju anak-anak warna pink. So rasanya kagok juga waktu pertama-tama. Memang sebelum salju turun mesti sudah bersiap-siap nyetok barang-barang. Karena kalau sudah datang dinginnya wah kayaknya mau keluar males banget. Belum lagi memasuki bulan desember kayaknya mesti bebenah rumah juga. Barang-barang baby kayak baju-baju yang beli di flohmarkt mesti dicuci lagi, belum lagi autosizt, tragetasche, kursi tidur bayi, dll bekas punya Adna dulu yang disimpan di gudang mesti dicuci2 lagi.

      Persiapan tempat tidur baby,  tempat menyimpan barang-barang baby, wah banyak juga yang perlu dikerjakan....Tapi Insya Allah enjoy juga ngerjain semuanya...